Tips Kerja dari rumah

| |

Mulai 16 maret pemerintah sudah menganjurkan agar melakukan pekerjaan dari rumah atau dalam bahasa inggris work from home, bagaimana kerja dari rumah itu?

Melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan di kantor di rumah, lalu bagaimana sebaiknya melakukan kerja dari rumah tersebut, berikuta adalah artikel dari seorang praktisi tentang pengalaman dan tips kerja dari rumh, dicopy langsung dari status facebook yang bersangkutan

TIPS KERJA DARI RUMAH
.
Ditulis oleh praktisi KDR berpengalaman lebih dari 4 tahun dan bersertifikat (dibuat sendiri sertifikatnya).
.

Pekerjaan saya setahun belakangan ini adalah sebagai konsultan Social Media di 2 perusahaan, di samping ngisi kelas “in-house training” untuk instansi tentu saja. Kehadiran saya di kantor hanya 1 minggu sekali untuk kantor A dan dua minggu sekali untuk kantor B, mengingat kebutuhan kehadirannya berbeda-beda. Ruang lingkup pekerjaannya adalah memimpin tim social media mereka, mengarahkan, dan memeriksa pekerjaan-pekerjaan mereka. Semua bisa dilakukan via jarak jauh dengan menggunakan perangkat aplikasi seperti Trello, Gdoc, dan WAG.

Selama ini, pekerjaan tersebut berjalan lancar. Efektivitas kerja tim meningkat jika dilihat dari hasil kerjanya pengelolaan social media mereka; follower bertambah pesat, engagement rate naik, dan untuk perusahaan A malah sudah bisa menghasilkan uang dari kanal social media mereka melalui pembelian konten-konten yang relevan dg brand/produk mereka —tentu saja saya memperhitungkan nilai brandingnya, sehingga tidak semua penawaran diterima meski jumlah nominalnya besar.

Sejauh ini aman.
Anak-anak (tim yg saya kelola usianya kisaran 23-27 tahun) yang tadinya belum terbiasa kerja jarak jauh, sudah mulai terbiasa dan tahu kapan harus WA saya, kapan harus telepon, dan kapan harus tidak menggangu saya dg urusan pekerjaan.

Hingga kemudian, seruan dari pemerintah untuk KDR dikumandangkan. Pagi tadi, tiba-tiba ada juklak yang isinya antara lain adalah: harus absen dengan cara video call di jam yang ditentukan dengan wajib menggunakan baju dan dandanan yang rapi seperti kalo ke kantor. Video call ini dimaksudkan untuk absen, menandai bahwa mereka kerja, dan selama jam kerja tidak dibolehkan ke luar rumah (bukan karena social distancing, tapi karena jam kerja KDR).

Tidak. Saya tidak mentertawakan juklak tersebut yang dibuat oleh mereka yang memang belum pernah KDR. Prinsip saya, orang yang tidak tahu/tidak punya pengalaman akan sesuatu, tidak pantas ditertawakan atas ketidaktahuannya tersebut. Namanya juga orang tidak tahu…. maka wajib dikasih tahu. Kecuali sudah dikasih tahu, tapi tetep ngeyel sak karepe dewe, ya mau gimana lagi. Mbarne ae… asal ora mangan tanduran tonggone.

KDR itu tidak semudah anjuran yang dikumandangkan. Di Indonesia hal ini masih tidak lazim dilakukan. Kalopun sudah ada yang bekerja dengan cara ini, prosentasenya masih sangat kecil. Jadi protokol atau juklak yang dibuat, sebaiknya memang melibatkan saran dari mereka-mereka yang sudah terbiasa KDR, karena :

KDR itu bukan semata-mata memindahkan apa yg selama ini dikerjakan di kantor kemudian dipindahkan ke rumah. Akan ambyar kalo hal spt ini dijadikan acuan. Ada kendala-kendala yang harus dipikirkan ketika KDR yang mungkin tidak ditemui saat kerja di kantor, yaitu:

* Internet.
Sebagai satu-satunya perangkat paling penting saat KDR, poin ini harus dimiliki semua pihak. Sayangnya, quota dan kecepatan internet masing-masing orang itu tidak sama. Ada yg berlimpah ruah seperti saya, ada yang buat kirim gambar via WA aja muter-muter gak keruan. Maka, harus dipikirkan kebijakan spt apa jika mewajibkan harus Video Call/ ConCall, sehingga urusan ini tidak terkendala di tengah jalan karena alasan fakir bandwith.

*Gangguan yang akan ditemui di rumah seperti: gangguan anak, istri, suami, pembantu, tetangga yg tiba-tiba main karena butuh sesuatu, hujan, dan perubahan cuaca lainnya, di jam-jam krusial KDR. Sejauh mana batas toleransi bisa diberikan jika hal-hal tersebut terjadi? Apakah langsung marah-marah karena dianggap abai, atau seperti apa? Ini harus dipikirkan dengan bijak, supaya tidak menimbulkan syak wasangka dan persepsi yang salah yang dampaknya bisa ke mana-mana.

*Mental KDR bagi orang yang belum pernah melakukan hal ini, tentu saja akan berbeda dg yang sudah terbiasa. Akan ditemukan gagap adaptasi, sehingga tidak bisa mengelola distraksi yang ada seperti: leyeh-leyeh, nonton TV, tidur, bercanda dg keluar, dan hal sejenis lainnya. Alih-alih kerja efektif, malah buang-buang waktu untuk hal tidak perlu. JANGAN SALAHKAN MEREKA YANG DALAM KONDISI SEPERTI INI, karena hal ini lazim ditemui pada mereka yang baru pertama kali menerapkan kerja KDR. Yang perlu untuk disiapkan adalah mekanismenya, bagaimana sebaiknya berkorrdinasi secara jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi yang ada, misalnya:

Berikut Tips dari saya:

1. Buat WAG untuk small team. Lakukan secara berjenjang, misalnya: level Top management -Level Manager dan supervisor -level supervisor dan tim satu divisi. WAG yang isinya terlalu banyak, sepanjang pengalaman saya, kurang efektif untuk diskusi kerja.

2. WAG ini fungsinya untuk mengatur dan meneruskan ifnormasi dari atas ke bawah atau sebaliknya dari bawah ke atas. Jadi, pastikan pengelompokkannya dengan benar.

3. Bikin jam Check in & Check Out setiap harinya, misal:
*Jam Check in setiap jam 8 pagi. Tiap anggota wajib absen di grup dengan kata “Wiwik Hadir”. Lalu setelah semua hadir, lakukan koordinasi kerja, diskusi, dan apapun itu yg mau dibahas untuk hari tsb.Absensi dimaksudkan supaya tiap orang menerima informasi di jam yang sama, untuk menghindari alasan “maaf baru join dan baru dapat informasinya skrg” >>> alasan ini biasanya sering digunakan untuk ngeles jika ditemukan kesalahan akibat tidak taat informasi yg diberikan, maka antisipasi dari awal. Antisipasi ini juga kudu disiapkan jika ternyata pada jam C/in ada yg berhalangan (apa yg musti dilakukan oleh mereka yg berhalangan). Percayalah, halangan dan rintangan saat KDR itu akan selalu ada dan jauh dari bayangan ketika kerja di kantor. Lamanya durasi pada poin ini bisa satu sampai 2 jam, tergantung kebutuhan.

*jam C/Out, misalnya jam 5 sore, fungsinya utk koordinasi terakhir sekaligus laporan hasil kerja saat itu sehingga tahu mana kerja yang belum selesai, mana yang masih ditindaklanjuti, dan mana yg ada masalah untuk segera diselesaikan.

Selebihnya, karena sudah terlalu panjang, saya sudahi di sini dulu. Yang mau bertanya, bisa via japri.

Ingat, perbanyak minum air putih dan jangan kebanyakan duduk. Sesekali Stretching di sela-sela ngadep komputer yaa….

Aku sayang kalian. Udah dulu yaa… mau nonton drakor dulu.

Previous

Kasih Sayang

Membuat cairan desinfektan di Rumah

Next

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.