Note of Insurance Agent

I have this story from mailing list, it’s in Indonesia so you can learn the lesson

Hari ini, aku melihat sebuah drama kehidupan. Tentang kematian, tentang
perpisahan. Seorang pria terbujur kaku, didampingi tangisan istri dan
anaknya yang masih kecil. Usia 6 bulan. Ah, selalu saja ada ruang hampa
melihat perpisahan.
Tapi yang membuatku lebih hampa lagi, adalah saat seminggu yang lalu aku
datang ke keluarga ini. Waktu itu, aku datang dengan membawa proposal
asuransi. Dan tanggapan sang suami sangat di luar dugaan. Ia, yang hari
ini kulihat sudah tak bernyawa, malah mengejekku,”Apa kamu pemilik
nyawa?” Aku sempat bingung ke mana arah pertanyaannya
“Maksud Bapak? Mana mungkin saya pemilik nyawa? Wong nyawa saya sendiri
saja masih minjem!”
“Lho, kok kamu berani-beraninya menawarkan sebuah harga untuk nyawa
saya?”
Masya Allah. Kenapa Bapak ini berfikir sejauh itu?
“Pak, saya tidak bermaksud memperjual-belikan nyawa. Jelas nyawa bukan
milik kita. Yang saya coba tawarkan di sini adalah sebuah jaminan,
dimana andaikata terjadi suatu musibah dengan Bapak, ada santunan
kematian sejumlah sekian ratus juta rupiah agar keluarga Bapak tidak
mengalami kesulitan keuangan pasca ‘pergi’nya Bapak. Tidak ada yang bisa
menduga, kapan kita akan dipanggilNya. Apa salahnya kita beri sedikit
bekal untuk keluarga, agar hidup mereka tidak terkatung-katung?”.
“Ah, bisa saja kamu berdalih!”
Aku berusaha tenang. Melihat caranya merendahkanku, aku hanya bisa
istighfar.
“Bapak, apa Bapak tahu, orang seperti apa yang mau menjadi nasabah
asuransi?”
“Coba kamu yang ngomong!”
“Hanya ada 2 jenis orang. Satu, orang yang beriman, karena dia tahu,
suatu saat, dia pasti mati. Dan yang kedua, orang yang sayang keluarga.”
Tiba-tiba kulihat ia salah tingkah,”Ah, bukan begitu caranya sayang
keluarga. Yaa..kita serahkan saja semuanya pada Tuhan. Tuhan menjaga
keluarga saya”
“Kalau begitu, Bapak nggak usah kunci pintu rumah saat akan pergi
meninggalkan rumah”
“Memang kenapa?”
“Kan dijaga Tuhan!”
Wajahnya tambah memerah
Lalu aku permisi pulang. Kubiarkan ia berfikir.

Tapi ternyata aku salah. Bapak itu tidak diberi waktu banyak untuk
berfikir. Tuhan lebih dulu memanggilNya. Kecelakaan tragis merenggutnya
dari keluarga tercinta. Maka hari ini, sang istri mendekatiku saat aku
datang melayat,”Maafkan suami saya, Mbak! Ah, andaikata kemarin ia mau
menandatangani aplikasi yang Mbak ajukan.”
Aku peluk ia,”Sudahlah, Bu. Mungkin saya belum diberi kesempatan Tuhan
untuk menolong.”
Aku benar-benar merasa hampa. Kehampaan yang tidak bisa terbayar dengan
komisi yang tidak seberapa, andai bapak tadi mengambil polis dariku.

I learn that I should start take some insurance for me, my futere children and my wife, the point is I don’t want my family suffer if something happen with me.

Leave a Comment